titik awal kejayaan islam
Ceramah
I
Indah Rachmawati
4 Mei 2026
4 menit baca
2 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ....
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا. (Surat Al-Kahfi, ayat 28)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Yang terhormat, para alim ulama, para kiai, tokoh masyarakat, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian, seluruh hadirin yang berbahagia dalam majelis ilmu yang penuh berkah ini.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada kesempatan yang baik ini, kita dapat berkumpul dalam rangka menuntut ilmu, memperdalam pemahaman kita tentang Islam. Rasa terima kasih yang terdalam kami sampaikan atas kehadiran Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian.
Hari ini, kita akan bersama-sama merenungi sebuah tema yang sangat fundamental, yaitu "Titik Awal Kejayaan Islam". Kata "kejayaan" seringkali kita artikan sebagai kekuasaan, kemenangan besar, atau kemakmuran materi. Namun, dalam konteks Islam, kejayaan yang sesungguhnya berakar dari hal yang jauh lebih mendalam dan berkesinambungan.
Mari kita sejenak menoleh ke belakang, ke masa di mana Islam baru saja hadir di muka bumi. Pada permulaan dakwah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Islam bukanlah agama yang menguasai atau ditakuti. Justru sebaliknya, para pengikutnya adalah kaum minoritas yang seringkali mendapatkan perundungan dan tekanan. Lantas, apa yang menjadi "titik awal" dari perkembangan dan kejayaan Islam yang luar biasa ini?
Titik awal kejayaan Islam bukanlah kesukuan, bukan pula kekuatan militer atau kekayaan materi. Titik awal kejayaan Islam adalah *iman* yang tertanam kuat di dalam dada dan *amal shaleh* yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita lihat prinsip yang diajarkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Kahfi ayat 28 yang baru saja kita baca: "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena kamu hendak mencari kehidupan dunia; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lupakan dari mengingati Kami, serta ia mengikuti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas."
Ayat ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana para sahabat Nabi berjuang. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berzikir, beribadah, dan mengharapkan ridha Allah. Mereka tidak tergiur oleh gemerlap dunia dan tidak larut dalam kesenangan sesaat. Inilah pondasi utama yang diletakkan oleh Rasulullah. Para sahabat dibina untuk memiliki keimanan yang luhur, ketakwaan yang mendalam, dan akhlak yang mulia.
Mari kita ingat kisah salah satu sahabat, seperti Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu. Beliau berasal dari kalangan budak, namun keimanannya begitu kokoh. Ia rela disiksa, dibakar di bawah terik matahari, bahkan diancam dengan kematian, namun tidak mau meninggalkan keimanannya. Keberanian dan keteguhan beliau bukanlah berasal dari kekuatan fisik, melainkan dari keyakinan yang tak tergoyahkan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kejayaan Islam mulai terlihat ketika nilai-nilai luhur ini diamalkan. Ketika Al-Qur'an menjadi pedoman hidup, dan Sunnah Nabi menjadi teladan. Ketika kaum Muslimin bersatu padu dalam kebenaran, saling menolong, dan mengabdikan diri untuk dakwah. Kemenangan-kemenangan besar seperti Badar dan Uhud bukanlah semata-mata karena strategi perang, melainkan karena pertolongan Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan tidak kepada harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal kalian." (HR. Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa yang paling utama dalam pandangan Allah adalah keadaan hati dan perbuatan kita.
Oleh karena itu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, titik awal kejayaan Islam yang harus kita gali dan kita hidupkan kembali dalam diri kita adalah penguatan iman, peningkatan kualitas ibadah, pembersihan hati dari segala penyakitnya, dan mewujudkan amal-amal shaleh dalam setiap aspek kehidupan. Mulailah dari diri sendiri, dari lingkungan keluarga, dari tetangga kita, hingga meluas ke masyarakat.
Mari kita renungi kembali ayat Al-Qur'an: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (Surat Ar-Ra'd, ayat 11). Maka, jika kita merindukan kejayaan Islam yang sesungguhnya, marilah kita mulai dari perubahan diri kita. Berpegang teguh pada ajaran agama, tingkatkan kualitas ibadah kita, tunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama. Jadilah pribadi Muslim yang memiliki iman yang kuat, akhlak yang mulia, dan bermanfaat bagi sesama. Bukankah itu adalah awal dari segala kebaikan, awal dari kejayaan yang hakiki?
Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa membimbing kita untuk selalu berada di jalan-Nya, menguatkan iman kita, dan menjadikan kita pribadi-pribadi yang senantiasa beramal shaleh demi meraih keridhaan-Nya.
Atas segala kekurangan dan kesalahan yang mungkin saya sampaikan, saya memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan memaafkan kepada hadirin sekalian.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.